Pasang Pendeteksi Logam di Al Aqsa, Israel Dinilai Berlebihan

Juli 25, 2017
Belum ada gambar

FAJAR.CO.ID, YERUSALEM – Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu sepertinya menganggap gelombang protes dan kecaman sebagai angin lalu. Sebab, hingga kemarin (23/7) Israel mempertahankan keputusan menempatkan detektor logam di akses masuk ke Masjid Al Aqsa.Padahal, teguran keras terus berdatangan. Termasuk dari Liga Arab, Paus Fransiskus, dan PBB. ”Yerusalem adalah garis merah. Tidak seorang pun warga Arab atau umat muslim akan membiarkan tindak kekerasan terjadi di sana,” kata Ahmed Abul Gheit, ketua Liga Arab, terkait dengan krisis yang dipicu kematian dua polisi Israel pada 14 Juli tersebut.Menurut dia, pemasangan metal detector alias alat pendeteksi logam dan kamera pengawas pascainsiden tersebut terlalu berlebihan. Seperti Abu Mazen atau Mahmoud Abbas, pemimpin tertinggi Palestina, Gheit pun menyebut kehadiran alat pendeteksi logam dan kamera pengawas di pintu-pintu masuk Masjid Al Aqsa sebagai bentuk intervensi Israel. Padahal, selama ini telah disepakati bahwa pengelolaan masjid berada di tangan muslim, yakni pemerintah Jordania. Karena itu, wajar jika campur tangan Israel di bidang keamanan memicu amarah muslim.Bagi Gheit, pengamanan berlebih yang Israel terapkan di Masjid Al Aqsatersebut menjadi bukti bahwa negara itu sedang bermain api. ”Itu bisa memicu krisis yang lebih besar dengan masyarakat muslim dan Arab,” ujarnya.Bersamaan dengan itu, Paus Fransiskus mengimbau semua pihak yang terlibat dalam konflik bisa menahan diri. Dari Vatikan, dia berharap konflik tersebut bisa diselesaikan lewat dialog damai.Kemarin Israel bereaksi atas tekanan yang terus berdatangan dengan menggelar rapat kabinet. Netanyahu menyatakan bersedia merevisi kebijakan keamanan yang diterapkan di Masjid Al Aqsa. Namun, kubu ultranasionalis menolak wacana penarikan alat pendeteksi logam dari sejumlah gerbang. Sebab, dengan alat tersebut, mereka yakin bahwa Israelmenjadi lebih aman.

Komentar

VIDEO TERKINI