Penerapan Full Day School Matikan Pendidikan Lingkungan

Juni 15, 2017
Belum ada gambar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Wacana penerapan full day school dengan waktu belajar di sekolah 8 jam menuai pro kontra dari semua pihak. Tidak terkecuali dari kalangan agama. Sebab belajar di sekolah selama itu akan mematikan pendidikan di madrasah diniyah dan sejenisnya.Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil-Kemenag) Riau Ahmad Supardi menilai kebijakan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) yang akan memberlakukan Full Day School dengan 8 jam belajar di sekolah bakal meningkatkan kualitas pendidikan. Peningkatan itu tentunya dengan mengoptimalkan dan mensinergikan tiga basis pendidikan.“Sekolah, rumah/keluarga, dan lingkungan. Hal ini satu langkah maju dalam bidang pendidikan,” katanya seperti dilansir Riau Pos (Jawa Pos Group), Rabu (14/6).Menurutnya penerapan delapan jam belajar it bukan hanya di sekolah saja. Namun harus ada kombinasi pendidikan di tempat lain. Baik di rumah maupun di lingkungan. Jika tiga sisi ini digabungkan tentunya akan memiliki nilai yang sangat bagus.Sebab usai di sekolah, anak-anak akan melanjutkan pendidikan di Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA), Madrasah Diniyah Takmiliyah Awwaliyah, taman pendidikan alquran (TPS) dan sejenisnya.Dia menilai waktu belajar dari pukul 07.00-14.00 terdapat di sekolah, lantas dilanjutkan di rumah dari pukul 14.00-15.00 dan belajar lingkungan yakni di madrasah diniyah dari jam 15.00 hingga jam 18.00.Jika pola ini diterapkan, tentunya itu dipandang sebagai bagian integral dari pendidikan. Tetapi jika full day school diterapkan penuh di sekolah, maka akan mematikan MDTA, MDA, atau sejenisnya. Sebab lembaga pendidikan itu terdapat di masjid.Alasan Ahmad Supardi memertahankan pendidikan di lingkungan seperti MDA, MDTA, dan sejenisnya karena telah terbukti dan teruji dalam membina dan mendidik anak-anak dalam bidang pendidikan agama.

Komentar

VIDEO TERKINI