Rasan-rasan Literasi di Kota Wali: Belajar harus Menyenangkan, Ora Usah Grusa-grusu

oleh

DEMAK, RAKYATJATENG – September sepertinya tak bisa lepas dari serba serbi tentang literasi. Bisa jadi alasannya adalah Hari Aksara Internasional yang sudah sejak 54 tahun lalu ditetapkan oleh PBB tiap tanggal 8 September.

Lepas dari masyarakat sudah sadar atau belum terhadap literasi, tetapi setiap individu sebenarnya punya kewajiban moral sebagai subjek bagi gerakan tersebut.

Budaya baca tulis hitung (calistung) masyarakat Indonesia yang masih rendah menjadi salah satu garapan bagi para pemerhati literasi.

Maka hampir di tiap sudut bermunculan wadah-wadah fasilitas pendorong minat calistung.

Di Kabupaten Demak yang terkenal religius, sebenarnya budaya literer sudah menjadi sebuah keniscayaan. Sebab di tiap rumah hampir tak pernah ada jeda orang yang membaca. Apapun bacaannya, sudah menjadi sebuah indikasi literasi. Termasuk juga ketika warga Demak hampir tak pernah absen dalam membaca Al Quran.

Komunitas Rumah Kita (Koruki) sebagai salah satu lembaga pemerhati literasi, Minggu (15/09/2019) malam, mencoba menggali sejauh mana warga Demak menaruh perhatian terhadap literasi dengan cara menggelar acara terbuka berjudul ‘Rasan-rasan Literasi ‘ dengan narasumber Widyo Leksono dan dihadiri puluhan warga Demak.

Menurut Widyo Leksono, selama KTP kita masih WNI, maka literasi di negeri ini jadi tanggungjawab semua.

“Literasi bisa dimulai dengan membangun gerakan calistung lingkungan sendiri. Kita tidak bisa sendiri, harus bersama sama,” kata Widyo Leksono yang akrab disapa Babahe.

Rasan – rasan literasi yang menjadi tema acara Purnama di Koruk#1 itu dihadiri sejumlah kalangan baik guru, dosen, karyawan, pelajar, mahasiswa hingga seniman.

Acara diskusi yang dikemas santai itu berlangsung cair. Para audien menyampaikan gerakan literasi di daerahnya masing – masing.

Menurut Babahe, gerakan literasi bisa diawali dengan mengajak masyarakat putus sekolah atau warga kampung disekitar kita untuk belajar membaca dan menulis.

“Kita mulai dari hal yang paling sederhana, misalnya warga kita ajari menulis sejarah, menulis cerita dan membaca, termasuk membaca kahanan (keadaan) di lingkungan kita,” ujar Babahe seniman nyentrik Kota Semarang.

“Tapi ingat, belajar harus menyenangkan dan sabar. Ora usah grusa – grusu (tidak cepat – cepat),” kata dia lagi.

Sementara itu, Kusfitria Marstyasih , Ketua Koruki Demak mengatakan, sebagai lembaga independen, Koruki yang berdiri sejak tahun 2014, sudah sering menggelar acara diskusi dengan tema yang berbeda mulai sosial, budaya, seni, pendidikan hingga politik.

Menurut Ibu tiga putra ini, literasi berawal dari rasa cinta terhadap ilmu dan pengetahuan, bukan pemaksaan terhadap program yang digembar gemborkan. Maka semua pihak sebenarnya cukup berbekal niat dan butuh pengetahuan.

“Bagaimana mau membutuhkan literasi, jika pendidikan kita saja masih lebih memprioritaskan anak agar pintar membaca, bukan agar anak mencintai membaca dan bentuk literer lain. ” Ungkapnya.

Selanjutnya, Kusfitria memberikan pernyataan komitmen Koruki terhadap literasi dan lingkungan sekitar.

“Terkait literasi, Koruki berupaya semampunya mengedukasi warga di kanan kiri dan para tetangga untuk belajar bersama,” tutupnya. (yon)