Lebih Ramah Lingkungan, 72 Armada Trans Semarang Gunakan BBG

oleh

SEMARANG, RAKYATJATENG – Sebanyak 72 armada Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang kini lebih ramah lingkungan. Pasalnya, puluhan armada dari koridor 1, 5, 6, 7 dan koridor Bandara telah dilengkapi alat konveter Bahan Bakar Gas (BBG).

Kepala Badan Layanan Umum (BLU) UPTD Trans Semarang Ade Bhakti Ariawan, menjelaskan penggunaan BBG ini sebagai upaya konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) menjadi BBG.

“Konversi dari BBM ke BBG ini tidak 100 persen menggunakan gas, kami menggunakan sistem yang disebut retrofit, yakni dapat menggunakan gas dan solar. Bahan bakar solar digunakan sebagai cadangan,” ujarnya saat meninjau dan melihat pembangunan halte transit point di dekat Balaikota Semarang, Jalan Pemuda, Senin (12/8).

Menurut Ade, manfaat dengan konversi BBG adalah emisi kendaraan menjadi lebih ramah lingkungan, biaya operasional lebih murah karena penghematan bahan bakar dan membuat mesin lebih awet.

“Penghematan dapat dilakukan karena dalam operasional armada, biaya bahan bakar gas lebih murah,” ujarnya.

Dia menyebutkan, perbandingan hasil konsumsi bahan bakar solar dengan bahan bakar standar (hanya solar) membutuhkan 5,5 liter dengan biaya Rp 28.325.

Sedangkan untuk bahan campuran (solar+CNG) membutuhkan 1,48 liter solar dan gas CNG 4,02 Lsp dengan biaya total Rp 20.084. Harga Compressed Natural Gas (CNG) mengikuti patokan harga gas di Jakarta Rp3.100.

Disebutkan bahwa konversi bahan bakar yang saat ini diterapkan pada BRT Trans Semarang disambut positif oleh berbagai pihak.

Sebelumnya Pemerintah Kota Semarang menjalin kerjasama dengan Pemerintah Toyama City Jepang dalam program konversi bahan Bakar dari Solar menjadi Gas. Penandatanganan MoU kedua belah pihak telah dilakukan pada 14 Desember 2017.

Terkait dengan pembiayaan program konversi dari BBM menjadi BBG sebesar Rp 10 miliar, telah disetujui Kementerian Lingkungan Hidup Jepang untuk pembiayaan dibiayai 50 persen dengan skema Joint Crediting Mechanism (JCM).

Sisa pembiayaan 50 persen, akan ditanggung oleh APBD Kota Semarang. Hingga Desember 2018 armada BRT Trans Semarang telah terpasang BBG.

“Pada pemakaian harian di armada ukuran sedang (medium), dibutuhkan rata-rata 80 liter solar dengan harga Rp 5.150, sedangkan dengan pemakaian Gas hanya dibutuhkan 60 liter, dengan patokan harga gas di Jakarta Rp 3.100 dan solar 21 liter,” jelasnya.

Ade menegaskan mengenai keamanan tabung gas, tabung konveter gas yang dipasang sudah melewati uji standart khusus untuk CNG yang memiliki tekanan 200 bar, sehingga berbeda dengan tabung gas LPG.

Tabung Conveter BBG ini dijamin sangat aman jadi tidak perlu khawatir akan meledak seperti tabung LPG dan tabung ini diletakkan di bagian bawah bus.

Ade menambahkan, valve yang terpasang adalah valve yang aman dan hanya bekerja berdasarkan koneksi dari Electronic Control Unit (ECU). Jika tidak ada perintah dari ECU, gas tidak akan keluar dari tabung.

“Oleh karena itu tabung bahan bakar tidak akan mengalami kebocoran termasuk selang sambungan meski terlepas tidak menyebabkan kebocoran. Terkait dengan ketahanan tabung, sudah melewati tahapan tes dan saat diuji coba, tabung ditembak peluru 12 mm tidak tembus. Sehingga aman digunakan pada BRT Trans Semarang,” jelasnya.

Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) untuk pengisisan pada BRT Trans Semarang sudah ada di SPBG Mangkang, SPBG Penggaron, SPBG Kaligawe. Namun, SPBG yang ada tersebut belum dapat difungsikan, terkait dengan pengisian bahan bakar gas, akan dilakukan di Tambak Aji.

BRT Trans Semarang pun bekerjasama dengan PT Pertagas Niaga dalam hal pengisian BBG dengan mendatangkan 2 Mobile Refueling Unit (MRU). Keberadaan MRU akan memudahkan pengisian bahan bakar dengan CNG.

“Untuk sistem pengisian BBG, akan dilakukan setelah akhir pelayanan. Pada saat pengisian mesin harus dalam keadaan mati dan kondisi di dalam armada kosong,” pungkas Ade. (sen)