Kekeringan, Delapan Kecamatan Dapat Bantuan Air Bersih

oleh
Sejumlah warga mengambil air bersih bantuan (net)

BOYOLALI, RAKYATJATENG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, menyalurkan bantuan air bersih kepada delapan kecamatan yang mengalami kekeringan karena kemarau.

“Ada 42 desa yang tersebar di delapan kecamatan mengalami kekeringan dan kekurangan air bersih selama musim kemarau saat ini,” kata Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Boyolali Bambang Sinungharjo di Boyolali, Jumat (12/7).

Pemerintah Kabupaten Boyolali menyiapkan anggaran pengadaan air bersih 628 tangki yang dikelola BPBD dan Bagian Kesra untuk disalurkan kepada warga yang membutuhkan.

“Kami dalam droping air bersih ke wilayah Boyolali Utara dengan tujuh armada tangki ukuran 6.000 liter. Delapan kecamatan yang membutuhkan bantuan air bersih itu, yakni Wonosegoro, Kemusu, Juwangi, Karanggede, Wonosamodro, Klego, Tamansari, dan Musuk,” katanya.

Pada pemangku kepentingan juga telah dikumpulkan untuk memberi bantuan air bersih ke desa-desa yang terdampak musim kemarau saat ini. Pihaknya bekerja sama dengan pemangku kepentingan menyalurkan bantuan air bersih kepada warga yang membutuhkan.

Pemkab Boyolali menetapkan masa tanggap darurat kekeringan di daerah itu mulai 1 Juli hingga 31 September 2019.

“Kami tahun ini telah menetapkan 42 desa di delapan kecamatan yang masuk dalam kategori tanggap darurat kekurangan air bersih,” katanya.

Pihaknya optimistis persediaan 628 tangki air bersih dapat mencukupi kebutuhan masyarakat.

Ia menjelaskan bantuan air bersih selain dari pemerintah daerah juga donatur yang diperkirakan mencapai 300 tangki sehingga totalnya sekitar 928 tangki air.

“Jumlah itu diharapkan cukup untuk membantu warga di daerah yang kekurangan air bersih,” tambahnya.

Ia menjelaskan rata-rata setiap desa akan mendapatkan bantuan air bersih 30 hingga 35 tangki untuk kebutuhan sehari-hari warga selama kemarau.

“Kami mengimbau warga yang mengajukan usulan bantuan air bersih dapat lewat kepala desa melalui kantor kecamatan kemudian dikirimkan kantor BPBD, dan kemudian kami baru melakukan droping air sesuai daerah permintaan,” jelasnya.

Cukup banyak warga Desa Sruni, Kecamatan Musuk merasakan kekurangan air bersih selama dua bulan terakhir. Warga harus membeli air bersih dari truk-truk tangki swasta dengan harga Rp120 ribu hingga Rp250 ribu per tangki. Harga air bersih per tangki itu tergantung jarak lokasi pengiriman.

Menurun Ketua RW05 Desa Sruni, Hadi Sutarno, warga setempat mulai kesulitan air bersih sejak pertengahan Bulan Puasa hingga sekarang, sehingga sejumlah mobil tangki air terlihat mondar-mandir melakukan droping air ke rumah warga.

“Warga Sruni terutama di daerah rawan kekeringan mulai bersiap diri menghadapi kemarau saat ini. Sesuai pengalaman peristiwa kekeringan tahun sebelumnya, puncak musim kemarau akan terjadi Agustus 2019,” ujar dia.

Ia menjelaskan warga yang masih mampu bisa membeli air bersih dari truk tangki swasta, sedangkan yang tidak mampu mengajukan bantuan dari pemerintah daerah. (Ant)