31 Daerah di Jateng Rawan Kekeringan

oleh
Ibu Kota Jakarta menjelang senja. BMKG merilis bahwa musim kemarau akan memicu kualitas udara makin buruk. Beberapa daerah pun bakal terancam kekeringan. (jpc)

SEMARANG, RAKYATJATENG – Musim kemarau tahun ini bakal lebih kering daripada 2018. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak kemarau terjadi pada Agustus. Selain lebih kering, cuaca panas berpotensi memperburuk kualitas udara di perkotaan.

Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG Dodo Gunawan menjelaskan, musim kemarau tahun ini dipengaruhi fenomena El Nino. Meskipun intensitasnya kecil. “Karena itu, musim kemarau 2019 akan terasa lebih kering jika dibandingkan dengan 2018,” katanya. Memasuki Juli, hampir semua daerah di tanah air mulai masuk musim kemarau.

Musim kemarau yang panas dan terik, lanjut Dodo, berpotensi meningkatkan polusi udara di perkotaan. Emisi gas yang dikeluarkan kendaraan bermotor maupun pabrik industri terperangkap di atmosfer. Kondisi tersebut membuat suhu di atmosfer lebih tinggi daripada suhu di permukaan bumi. “Kondisi itu yang disebut sebagai inversi. Sehingga lapisan atmosfer susah untuk menguraikan polutan,” jelasnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyatakan, pada Juni hingga September, 31 daerah di antara 35 kabupaten/kota di Jateng rawan kekeringan. Jumlah tersebut meliputi 1.259 desa dari 360 kecamatan.

“Sampai hari ini kami sudah mengirim tangki air di desa yang mengalami kekeringan ke sepuluh kabupaten/kota. Di antaranya Semarang, Cilacap, Grobogan, Temanggung, dan Blora,” jelasnya kemarin.

Di sisi lain, kemarau juga akan berpengaruh pada produksi beras nasional. Pengamat pertanian Dwi Andreas mengatakan, puncak musim panen kedua tahun ini terjadi pada Agustus. Adanya penurunan luas tanam dan panen yang berbarengan dengan puncak kemarau membuat produksi beras nasional tahun ini diperkirakan turun 5-10 persen.

(JPC)