Hama Tikus Serang Puluhan Hektar Sawah, Panen Padi pun Terancam

oleh
TUNJUKKAN – Nahdlor, petani asal Dukuh Gesing, Desa Lebo, Kecamatan Gringsing menunjukkan hasil panen padi yang terserang hama. (M DHIA THUFAIL/RP)

BATANG, RAKYATJATENG – Musim tanam tahun ini, petani padi di sejumlah wilayah benar-benar dibuat pusing. Belum selesai dengan dua masalah klasik, yakni mahalnya biaya produksi serta harga gabah hasil panen yang kurang menguntungkan, kini mereka dihadapkan dengan ancaman hama tikus.

Seperti yang terjadi pada puluhan hektar sawah di tiga desa Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Petani di sini resah akibat sudah tiga kali mengalami gagal panen lantaran diserang hama tikus. Petani pun merugi hingga ratusan juta rupiah. Belum lagi, pemerintah daerah juga belum merespon masalah yang dihadapi para petani.

“Seperti inilah, kondisi pertanian di wilayah kami, tidak ada lagi nampak geliat kegembiraan yang dirasakan para petani. Pasalnya tanaman padi yang sudah ditanam hancur diserang oleh hama tikus yang terus menggerogoti dedaunan hingga ke pangkal batang yang baru berusia 15 hari tersebut,” ungkap Muniri, petani setempat.

Ia mengatakan, misalpun ada tanaman padi yang masih bisa tumbuh, namun hasil daunya menguning, kering, dan mati, sehingga tak sampai berbuah tanaman padi tersebut tidak berbuah normal atau bahkan mati.

“Sudah ketiga kalinya, pertanian di wilayah kami ini tengah diserang oleh hama tikus. Para petani saat ini hanya bisa pasrah dan membersihkan daun atau matun sisa yang dimakan oleh tikus,” paparnya.

Untuk mengatasi hama itu, kata Muniri, para petani sudah berusaha dengan berbagai cara, seperti menggropyok sarang tikus dan menaruh sesaji sebagaimana adat orang Jawa, namun tetap saja tidak efektif.

“Khusus di area lahan pertanian padi di sebelah selatan jalan tol ruas Batang-Semarang yang berada di sekitar Desa Kutosari dan Desa Lebo, sedikitanya ada 35 an hektar lahan gagal panen dua kali, dan pada tanam ketiga saat ini juga masih sama,” beber Nahdlor, petani lainnya.

Menurutnya, akibat gagal panen, petani mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah. Asumsinya, persiring modal tanam Rp 1,5 juta kali 4 atau satu hektar kali 30 hektar sama dengan Rp 6 juta kali 30 hektar sama dengan Rp 180 juta.

“Meskipun terjadi hama tikus seperti ini, dari pihak-pihak terkait yakni petugas Dinas Pertanian hingga kini belum pernah mendatangi areal padi kami,” pungkas Nahdlor. (fel/RP)