Kemandirian Warga Binaan Lapas Perempuan Tangerang Munculkan Banyak Simpati

oleh

JAKARTA—Direktorat Jenderal Pemasyarakatan terus mendorong percepatan revitalisasi pemasyarakatan, salah satunya dengan upaya terpadu dan konsisten menumbuhkan kecakapan dan kemandirian warga binaan. Usaha penuh tekad dan konsisten tersebut tak urung membuat banyak kalangan merasa simpati dan terkesan, antara lain aktor Okan Kornelius.

Pengakuan tersebut disampaikan Okan kepada wartawan di Jakarta, Kamis malam, 20 Juni. Sehari sebelumnya Okan yang mewakili sebuah perusahaan publik itu sempat menyambangi Lapas Perempuan Tangerang untuk sebuah kerja sama dalam meningkatkan kualitas produk yang proses produksinya sudah berjalan lama di Lapas.

“Masyarakat seharusnya tahu bahwa warga binaan itu ternyata kreatif, ulet, telaten, dan dapat menghasilkan banyak produk yang berkualitas,” kata Okan. Ia menyayangkan minimnya publikasi yang bisa diakses masyarakat sehingga mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dengan mengetahui pasti kualitas dan kemandirian warga binaan, kata Okan, masyarakatakan lebih mudah menerima warga binaan yang sudah kembali ke masyarakat.

“Semua itu akan memperlancar usaha warga binaan untuk kembali melebur dan menjadi warga yang berguna serta memberikan partisipasi maksimal sesuai kemampuan mereka,” kata aktor yang membintangi banyak sinetron nasional itu. Minimnya pemberitaan tentang kualitas kemandirian dan kesiapan warga binaan kembali ke masyarakat, kata Okan, akan membuat citra warga binaan sebagai orang terbuang terus melekat kuat dalam keseharian publik. Pada gilirannya, hal itu tak hanya mempersulit kembalinya warga binaan diterima masyarakatnya, tetapi juga menambah potensi persoalan sosial.

Selama ini Lapas Perempuan Tangerang tergolong lapas yang banyak menggelar program pembinaan kemandirian dan pemberian keahlian untuk warga binaan mereka. Lapas juga terbuka untuk bekerja sama dengan berbagai lembaga yang peduli. Setidaknya pemberitaan media setahun terakhir tercatat kerja sama lapas dengan banyak pihak, antara lain, Dompet Dhuafa, Universitas Syekh Yusuf Tangerang, Universitas Binus, Foundation For International Human Rights Reporting Standards (FIHRRST) sebuah lembaga nirlaba peduli hak asasi yang berpusat di Brussel, Belgia, Yayasan TIFA, dan banyak lagi.

Dompet Dhuafa bahkan memiliki program berkelanjutan untuk warga binaan lapas, yakni Program Bina Santri Lapas (BSL). Program ini merupakan upaya pembinaan keagamaan bagi warga binaan di lapas dengan tujuan menyiapkan warga binaan agar saat keluar dari lapas dapat hidup lebih baik, diterima di masyarakat, serta membawa perubahan yang berarti dalam hidup mereka.

Dalam kesempatan berbeda Kepala Lapas Perempuan Tangerang Herlin Candrawati mengatakan, pihaknya membuka banyak kesempatan agar kemampuan dan kemandirian warga binaan senantiasa terus berkembang. Untuk itu Herlin mengakui banyak menerima bantuan dan dukungan masyarakat.

“Pembinaan yang kami lakukan tentu tidak akan maksimal jika tidak didukung oleh masyarakat. Kami sangat percaya bahwa masyarakat merupakan bagian dari tiga pilar Sistem Pemasyarakatan dalam pembinaan warga binaan, yaitu pemerintah, warga binaan dan masyarakat,” kata Herlin.

Dalam berbagai kesempatan Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjenpas) Sri Puguh Budi Utami tak pernah henti menekankan jajarannya untuk terus mendorong pembinaan kemandirian warga binaan. Upaya itu menurut Dirjen Utami fokus pada kegiatan pembinaan kemandirian guna meningkatkan kemampuan diri (life skills) dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dalam kehidupannya melalui pelatihan keterampilan dan kemandirian.

”Menjadi tantangan tersendiri bagi Ditjen PAS untuk membina dan mengantarkan warga binaan menjadi terampil dan mandiri di tengah-tengah keterbatasan yang ada. Untuk itu jelas diperlukan banyak keterlibatan pihak ketiga, dari Kementerian/Lembaga, LSM, maupun Lembaga Pelatihan Kerja dan para pemerhati pemasyarakatan dalam kegiatan pembinaan. Mulai dari produksi hingga distribusi produk-produk yang dihasilkan di dalam Lapas dan Rutan,” kata Utami.

Lapas Perempuan Kelas IIA Tangerang didirikan 1979 dan mulai difungsikan pada 1982. Lapas ini berkapasitas 250 orang. Namun, seperti kebanyakan LP di Indonesia yang mengalami kelebihan kapasitas.[ ]