Jadi Brand Ambassador Borobudur Marathon 2019, Ini Kiat Sigi Wimala

oleh

JAKARTA, RAKYATJATENG – Meski tahun sebelumnya sudah menjajal kemampuannya pada Borobudur Marathon, tahun ini Sigi Wimala yang kembali didapuk menjadi brand ambassador Borobudur Marathon 2019, tetap terus melakukan sejumlah persiapan. Tak hanya gencar membantu promosi, persiapan fisik tak diabaikan.

Dijumpai saat konferensi pers Borobudur Marathon 2019 di Hard Rock Cafe Jalan Sudirman Jakarta Selatan, Selasa (18/6/2019), wanita cantik itu mengungkapkan, latihan rutin dilakukan dua kali seminggu. Sigi bersama komunitas lari menjajal long run dengan jarak lebih dari 20 kilometer.

Mengingat Borobudur Marathon merupakan event internasional yang bergengsi, dia berpesan kepada para peserta khususnya pemula, agar tidak latah ikut-ikutan lari marathon. Sementara, kemampuan fisiknya tidak memadai untuk lari marathon.

“Oh semua orang lari marathon, lari halfmarathon, terus gengsi ikut-ikutan. Padahal tubuhnya belum sekuat itu, lalu berakhir cedera. Jangan sampai seperti itu,” ungkap wanita yang saat ini tengah fokus menjadi ibu rumah tangga.

Menurutnya, Borobudur Marathon sangat unik dibandingkan lari marathon lainnya. Sebab, rute yang dilalui melewati desa-desa di sekitar Borobudur. Sehingga, siapapun yang akan berlari, akan merasakan sepanjang jalan banyak warga desa di Magelang yang menyapa dan memberikan buah tangan kepada peserta.

“Mereka keluar semua, nyorakin, memberikan teh manis, buah dari kebunnya, kadang tahu goreng. Pokoknya hal-hal yang simpel yang mereka lakukan, dengan hati. Dan biasanya itulah cara mereka support para pelari. Itu yang membuat Borobudur Marathon unik dan dari hati,” jelasnya.

Tahun ini, Wigi menargetkan bisa sampai ke finish kurang dari satu jam. Untuk itu, dia akan terus memperbanyak latihan.

Persiapan lari marathon juga disampaikan Joanne Jonazh, anggota Komunitas Fakerunners Jakarta. Untuk mengikuti ajang marathon, dia konsisten berlatih, karena butuh latihan rutin agar siap berlari kapan saja.

Diakui, setiap tahun dia mengikuti event bergengsi itu. Tahun ini, Joann bersiap mengikutinya lagi. Bukan hanya marathonnya yang membuatnya kembali, tapi kemegahan Candi Borobudur, budaya Jawa yang kental, serta keramahan masyarakatnya, membuatnya kangen kembali.

“Jadi sambil lari sekalian lihat-lihat, rekreasi, sambil menghargai budaya kita sendiri,” jelasnya.

Merasa belum memesan penginapan untuk Borobudur Marathon 2019, Joann tidak khawatir jika nantinya ia mesti tidur beralaskan tikar karena penuhnya penginapan di sekitar Candi Borobudur, termasuk Magelang hingga Yogyakarta. Baginya seorang runners dituntut selalu siap menghadapi kendala yang terjadi di lapangan.

Joann tak menampik, sebelum adanya Borobudur Marathon, yang dia ketahui Borobudur terletak di Yogyakarta. Namun setelah adanya event ini, dia baru mengetahui ternyata Borobudur terletak di Jawa Tengah. (hms)