Sulit Deteksi Penderita, Dinkes Jateng Belum Bisa Putus Mata Rantai TBC

oleh

SEMARANG, RAKYATJATENG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengaku masih kesulitan mendeteksi penderita penyakit tuberkulosis (TBC). Dari estimasi 297 kasus TBC per 100 ribu penduduk, baru ditemukan separonya saja.

Kepala Dinas Kesehatan Jateng Yulianto Prabowo menjelaskan, terdapat sekitar 145 kasus TBC per 100 ribu penduduk di wilayahnya. Angka itu cukup banyak, mengingat jumlah penduduk di Jateng sendiri lebih kurang 35 juta jiwa.

“Memang banyak, karena jumlah penduduknya juga banyak. Kalau jumlah penduduknya sedikit, ya potensi (jumlah penderitanya) sedikit juga. Misal Jogja yang hanya 10 persennya Jateng (jumlah penduduknya),” katanya saat dihubungi, Kamis (4/4).

Padahal menurut Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Jateng Tatik Murhayati, estimasi jumlah penderita TBC di Jateng mencapai 297 kasus per 100 ribu penduduk. Artinya, masih ada separo penderita TBC yang belum terdeteksi.

“Masalahnya, 1 penderita bisa menularkan ke 10 sampai 15 orang dalam satu tahun,” terang Tatik.

Sehingga menjadi lebih berbahaya manakala sumber atau penularnya tidak segera ditemukan dan ditangani. Ada beberapa faktor yang menyebabkan para penderita TBC sulit ditemukan. Umumnya karena masih banyak yang enggan mengakui bahwa dirinya menderita TBC. Beberapa beralasan malu karena khawatir mempengaruhi kehidupannya.

“Seperti ketika di perusahaan, biasanya penderita khawatir ketika diketahui menderita TBC. Mereka akan diminta istirahat. Kalau diminta istirahat saja tidak masalah, tapi kalau dia lantas tidak mendapatkan penghasilan (karena tidak masuk kerja), ya dia tidak terus terang. Kerja tak mengenakan alat pelindung diri seperti masker sehingga menularkan TBC” ujarnya.

Jika menemukan sosok penderita atau penularnya saja sudah kerepotan, maka upaya memutus mata rantai penyakitnya malah lebih susah. “Minum obat juga lama. Banyak yang menghentikan pengobatan dengan sendirinya karena merasa sudah sehat, padahal belum,” keluhnya.

Meski demikian, pemerintah terus berupaya menemukan para penderita TBC ini. Termasuk dengan memanfaatkan inovasi alat Tes Cepat Molekuler (TCM) yang tersebar di 35 kota/kabupaten di Jateng. Alat ini diklaim mampu mempermudah pendeteksian. “Di puskesmas juga sudah ada, tetapi belum semua. Tahun ini akan didistribusikan lebih banyak lagi,” ungkap Tatik.

Tatik melanjutkan, Jateng menargetkan eliminasi TBC pada 2028. Ia pun mengimbau semua pihak agar ikut aktif mendukung gerakan ini. Masyarakat bisa berperan langsung dengan cara melaporkan penemuan penyakit atau penderita TBC.

(JPC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.