Kunjungi Pesantren di Sragen, Kemenperin Ciptakan Santripreneur

oleh

Menperin Airlangga Hartarto saat mengunjungi Ponpes Darul Ihsan Muhammadiyah Sragen (Istimewa)

SRAGEN, RAKYATJATENG – Pondok Pesantren Darul Ihsan Muhammadiyah, Sragen, Jawa Tengah, menumbuhkan wirausaha baru melalui program Wira Usaha Baru (WUB) Santri Bidang Industri. Program tersebut dibuat Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian.

Direktur Jenderal IKMA Kemenperin Gati Wibawaningsih mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan untuk menumbuhkan wirausaha baru di kalangan para santri.

“Harapannya santri dapat menciptakan usaha-usaha baru di bidang industri,” kata Gati Wibawaningsih, Jumat (22/3).

Dia mengatakan, program santripreneur yang digagas Ditjen IKMA Kemenperin telah membina sebanyak 22 pondok pesantren. Lebih dari 3000 santri telah diberikan pelatihan produksi dan motivasi kewirausahaan.

“Cakupan lingkup pembinaan kami diantaranya pelatihan produksi dan bantuan mesin atau peralatan di bidang olahan pangan dan minuman (roti dan kopi),” terang Gati.

Lainnya adalah perbengkelan roda dua, kerajinan boneka dan kain perca, konveksi busana muslim dan seragam, daur ulang sampah, dan produksi pupuk organik cair. Gati memaparkan, pondok pesantren dapat berperan strategis dalam mendukung pertumbuhan industri di Tanah Air.

Menurutnya, pondok pesantren memiliki peran sebagai Agent of Development yang sangat penting dan strategis dalam mengembangkan sumber daya masyarakat di pedesaan. Sehingga menjadi sarana yang penting dalam pemberdayan ekonomi masyarakat.

Berdasarkan sensus Kementerian Agama di tahun 2014-2015, jumlah pondok pesantren di Indonesia diperkirakan sebanyak 28.961 yang tersebar di seluruh provinsi dengan total santri sekitar 4.028.660 santri. Dari total 28.961 pondok pesantren, sekitar 23.331 pondok pesantren atau 80 persen diantaranya tersebar di empat provinsi yaitu, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Banten.

“Pondok pesantren memiliki potensi dalam penyediaan sumber daya manusia yaitu para santri yang berkualitas, ulet, sabar, jujur dan tekun,” ungkap Dirjen IKMA.

Selain itu, pondok pesantren juga memiliki potensi pemberdayan ekonomi, mengingat sudah banyak pondok pesantren yang mendirikan koperasi, mengembangkan berbagai unit bisnis atau industri berskala kecil dan menengah, dan memiliki inkubator bisnis.

Dengan jumlah pondok pesantren dan santri yang cukup besar, pondok pesantren memiliki potensi yang strategis untuk mendukung pembangunan ekonomi nasional. Salah satunya melalui penumbuhan wirausaha industri baru di lingkungan pondok pesantren.

Sementara itu, di Pondok Pesantren Darul Ihsan Muhammadiyah, Sragen, Jawa Tengah, digelar Kuliah Umum oleh Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dengan tema Santri Milenial di Era Perkembangan Teknologi Industri. Selanjutnya, Menperin meresmikan program Penumbuhan Wirausaha Baru di Bidang Produksi Roti untuk para santri di Pondok Pesantren Darul Ihsan Muhammadiyah.

Terdapat 800 peserta yang mengikuti kuliah umum. Sebanyak 20 santri lainnya mendapat bimbingan teknis WUB Produksi Roti yang diselenggarakan pada 21-25 Februari 2019.

Pada kesempatan tersebut, Direktorat Jenderal IKMA Kemenperin juga memberikan sejumlah bantuan alat. Antara lain, satu unit planetary mixer, satu unit spiral mixer (mesin pencampur adonan), satu unit proofer (mesin pengembang adonan), satu unit oven, satu unit mesin potong roti, satu unit lemari es, dan satu unit impulse sealer (alat perekat plastik).

Kemudian, dua unit meja stainless, 10 unit loyang pelengkap oven, satu unit hand mixer, satu unit penggiling adonan manual, satu unit tabung gas beserta regulator dan LPG, satu unit timbangan digital, dan satu unit rak bakery pan.

(JPC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *