Hindari Corat Coret Baju Seragam, Siswa SMPN 1 Solo Kenakan Busana Tradisional Saat Pengumuman Kelulusan

oleh

SOLO, RAKYATJATENG – Ada pemandangan berbeda saat pengumuman kelulusan di SMP Negeri 1 Surakarta, Senin (28/5) sore. Jika biasanya para siswa mengenakan seragam putih biru, tetapi untuk kali ini tidak demikian. Para siswa justru mengenakan pakaian tradisional. Yakni kebaya untuk perempuan dan beskap untuk putra.

Tentunya ini menjadi hal yang tidak biasa bagi para siswa. Meski terlihat asing dengan busana tersebut, tetapi mereka merasa cukup nyaman. Wajah-wajah yang masih polos terlihat begitu dewasa. Ditambah riasan di wajah mereka membuat penampilan berubah 180 derajat.

Ternyata ini memang sengaja dilakukan oleh pihak sekolah. Tujuannya adalah untuk menghindari adanya aksi corat coret yang biasa dilakukan oleh para siswa saat pengumuman kelulusan.

Dengan mengenakan busana tradisional, otomatis aksi tersebut tidak bisa dilakukan.

Kepala SMPN 1 Surakarta, Sutarmo menjelaskan, bahwa apa yang dilakukan tersebut agar tidak ada siswa yang melakukan aksi corat coret.

“Ini sudah kami lakukan sejak beberapa tahun silam, dan terbukti tidak ada siswa yang melakukan aksi corat coret. Hal ini karena, mereka mengenakan busana Jawa, jadi tidak mungkin akan melakukan corat coret,” ucapnya kepada JawaPos.com usai pengumuman.

Sutarmo menambahkan, selain untuk menghindari aksi corat coret, mengenakan busana tradisional sebagai salah satu upaya untuk menghormati dan melestarikan busana tradisional. Dengan mengenakan busana tradisional, para siswa akan lebih mengenal akan keragaman budaya yang ada.

“Ini sebagai upaya kami untuk menjaga tradisi Jawa juga,” ucapnya. Disinggung mengenai kelulusan siswa SMPN 1 Surakarta, Sutarmo mengatakan, bahwa seluruh siswanya lulus. Untuk nilai rata-rata mencapai 34.

Salah seorang siswa, Dinda Reginata,16, mengatakan busana yang dikenakannya memang terlihat tidak biasa. Akan tetapi, dirinya merasa cukup nyaman dan masih bebas untuk bergerak seperti saat mengenakan seragam putih biru. “Ini cara kami menghormati budaya Jawa,” ucapnya.

Disinggung mengenai aksi corat coret yang biasa dilakukan, Dinda mengungkapkan, bahwa kegiatan tersebut tidak ada manfaatnya. Di samping itu, itu menjadi kegiatan yang tidak menghormati sekolah.

“Kalau nanti ada yang membutuhkan seragam kan bisa disumbangkan, tidak perlu dicorat coret,” ucapnya.

Hal berbeda diungkapkan Caesar, 16. Ia mengatakan, sebenarnya dirinya sudah menyiapkan seragam yang akan digunakan untuk corat coret. Akan tetapi karena pihak sekolah menyuruh untuk mengenakan beskap, dirinya pun terpaksa membatalkan aksi corat coret.

“Sebenarnya saya sudah membeli cat semprot dan menyiapkan baju, tapi karena harus mengenakan busana ini, ya tidak jadi,” pungkasnya. (JPC)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.