Kembangkan Gua Pancur, Pemkab Pati Kucurkan Rp 50 Miliar

oleh

PATI, RAKYATJATENG – Pengembangan Gua Pancur menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Pati. Tak main-main, pengembangan gua di Desa Jimbaran, Kayen, itu dianggarkan Rp 50 miliar.

Penggelontoran anggaran itu direncanakan sesuai Detail Engineering Design (DED) selama lima tahun. Sedangkan tahun ini mulai penataan kompleks wisata alam tersebut.

Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Sigit Hartoko melalui Kabid Destinasi Wisata Sutopo menyampaikan, pengembangan Gua Pancur mendapatkan bantuan dari Dana Alokasi Khusus (DAK) sekitar Rp 1,1 miliar. Selain itu, ada penambahan anggaran dari APBD Pati.

Menurutnya, penataan tahun ini mulai dari gapura yang dianggarkan Rp 200 juta, ruang pertemuan dengan anggaran Rp 100 juta, penataan puluhan kios yang kini lapak jualannya kurang tertata. Nantinya pedagang dijadikan satu dan dihadapkan ke embung.

“Kami akan menata embung dan memperbaiki talut. Ke depan, akan ada homestay yang diperuntukkan bagi pengunjung jauh. Selama ini, pengunjung harus menginap jauh di Pati Kota. Seperti beberapa waktu lalu ada pengunjung dari Malaysia yang menginap jauh ke Pati,” ungkapnya.

Sutopo menambahkan, saat ini fokus menata Gua Pancur supaya menjadi destinasi wisata unggulan di Bumi Mina Tani. Serta menjadi daya tarik wisatawan dalam maupun luar daerah. Setelah itu, akan menata tempat wisata lainnya seperti Jolong dan Gunungrowo. Untuk wisata laut, akan dikembangkan yakni di Juwana dan Banyutowo.

Dia menambahkan, salah satu daya tarik Gua Pancur yakni susur gua mulai dari mulut gua hingga batas 830 meter semuanya berair. Ini jarang ditemukan di gua lainnya. Bahkan 300 meter diantaranya ada sumber air hangat yang bisa menyehatkan tubuh.

Salah satu tour guider Rohman, menceritakan, Gua Pancur ini pernah dibuka 1995 lalu namun terbengkalai. Oleh warga setempat kembali dikembangkan 2014 lalu. Para pemuda begotong royong membuat wahana di sekitar Gua Pancur. Penataan gua dilakukan di dalam gua.

“Kini di bibir gua kami beri pagar supaya tak semua bisa masuk. Dulu semua dapat masuk yang mengakibatkan kerusakan dalam gua. Kalau sekarang terjaga demi keindahan gua karena harus didampingi guide. Di dalam gua ada banyak bebatuan yang masih hidup, seperti batu jodoh, stalagmit, batu kuda, batu perkasa, sayap, dan lainnya,” urainya. (JPC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.