Tinjau UNBK, Walikota: Komputer Offline Bukan Hanya di Kota Semarang

oleh

SEMARANG, RAKYATJATENG — Walikota Semarang Hendrar Prihadi alias Hendi yakin kendala yang sempat mengadang peserta ujian nasional berbasis komputer (UNBK) SMP dan sekolah sederajat di ibu kota Jateng itu tidak akan merugikan siswa.

“Ada sedikit gangguan karena komputer ada yang sempat offline. Tetapi, infonya ini tidak hanya terjadi di Kota Semarang, dan bisa diatasi,” katanya saat meninjau UNBK di SMP Negeri 15 Semarang, Senin (23/4).

Setidaknya, ada empat sekolah yang ditinjau Walikota Semarang saat hari pertama UNBK SMP itu, yakni SMP Negeri 15, SMP Negeri 4, SMP Kesatrian 1 Kota Semarang, dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri 2 Kota Semarang.

Berdasarkan laporan yang diterimanya, Hendi menjelaskan gangguan terjadi pada perangkat komputer yang sempat offline sehingga waktu pelaksanaan ujian terpaksa diundur. Namun, politikus PDI Perjuangan itu memastikan gangguan yang diakibatkan sempat offline-nya sejumlah perangkat komputer itu tidak merugikan siswa atau mengurai waktu siswa mengerjakan ujian.

“Sudah diteliti. Walaupun komputernya sempat offline, tidak mengurangi waktu pengerjaan siswa yang bersangkutan. Kondisi offline, waktunya automatis juga berhenti. Sekali lagi, ini bukan hanya terjadi di Semarang,” katanya.

Sementara itu, Ketua Panitia Penyelenggara UN Kota Semarang, Sutarto, menjelaskan kendala yang sempat dialami sejumlah SMP pada sesi pertama UNBK tersebut sudah diatasi dan sekarang sudah berjalan lancar.

Dari sembilan subrayon yang terbagi untuk pelaksanaan UNBK SMP di Kota Semarang, kata dia, laporan kendala tersebut hampir merata di seluruh subrayon, tetapi tidak bersifat satu sekolah secara menyeluruh. “Jadi, tidak menyeluruh. Misalnya, setiap sekolah kan memakai tiga laboratorium komputer. Server di laboratorium satu dan dua lancar, tidak ada masalah. Di laboratorium ketiga agak molor,” katanya.

Estimasi terlambatnya siswa mengerjakan ujian, kata dia, bervariasi, antara 5-15 menit, dan paling lama ada yang sampai 30 menit, tetapi keterlambatan itu tidak dihitung waktu siswa mengerjakan ujian. “Tadi, ada yang sempat terlambat lima menit, 10 menit, 15 menit. Paling lama 30 menit. Tetapi, kan tidak mengurangi waktu siswa mengerjakan. Kami pastikan kendala ini tidak sampai merugikan siswa,” katanya. (slp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.