‘Jelajah Gizi’ 2018 Sasar Kota Semarang, Ini Alasannya

oleh

SEMARANG, RAKYATJATENG – Semarang terkenal dengan makanan enaknya. Selain itu bahan pangan lokal yang digunakan juga berperan pada lingkungan dan kecukupan gizi masyarakatnya.

Kali ini Nutricia Sarihusada menggelar gawean di Semarang lewat kegiatan rutin tahunan bertajuk Jelajah Gizi. Acara yang berlangsung selama tiga hari mulai 20-22 April 2018 ini mengusung tema ‘Eksplorasi Pangan Berkelanjutan di Kota Semarang.’

Menurut Arif Mujahidin selaku Coorporate Communication Director Danone Indonesia, bahwa Jelajah Gizi diadakan rutin untuk membangkitkan kembali potensi pangan lokal di sebuah daerah. Tema Jelajah Gizi tahun ini adalah pangan yang berkelanjutan. Tahun lalu soal revolusi pangan. “Kali ini kita mengajak konsumen untuk berpikir apa yang dimakan dan diminum akan mempengaruhi planet yang ditinggali,” katanya.

Dengan konsep pangan berkelanjutan, masyarakat diajak mengenal cara pengolahan, penyajian, hingga mengurangi limbah makanan atau mmebuang sisa makanan.

Kota Semarang dipilih sebagai tujuan Jelajah Gizi 2018 karena ibukota Jawa Tengah ini memiliki banyak makanan lokal yang enak. Selain itu di Semarang juga masih banyak ditemui makanan alami meskipun kotanya sudah terbilang kota metropolitan.

Sementara Kasturi, Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Semarang menyebutkan masyarakat Semarang termasuk aktif dalam melestarikan kuliner lokal.

“Orang Semarang itu sangat menghargai makanan tradisional, apalagi makanan tradisional itu sebenarnya mengandung gizi yang tinggi,” kata Kasturi dalam sambutannya di Semarang, Jumat (20/4).

Turut hadir juga ahli gizi Prof. Ir. Ahmad Sulaeman, MSi, PhD. Ia menyebutkan jika makanan bergizi turut berperan pada kualitas hidup seseorang. “Bagaimana mengedukasi masyarakat terkait pentingnya gizi pada makanan yang dikonsumsi. Orang panjang umur karena lingkungan terjaga dan makanannya berkualitas,” beber Prof. Ahmad Sulaeman.

Pengajar di Institut Pertanian Bogor (IPB) ini mengatakan bahwa saat ini produksi makanan meningkat tapi banyak yang belum optimal mendapatkan makanan berkualitas. Sementara itu tren restoran 2018 itu cenderung pada makanan lokal. Bukan hanya menggunakan bahan lokal tapi juga berkaitan dengan petani lokal.

Dalam acara yang akan berlangsung selama tiga hari ini, peserta diajak menikmati langsung berbagai sajaian khas Semarang. Dari kuliner legendaris, hingga kuliner ikonik seperti bandeng presto dan babat gongso.          (dtc)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.