1.120 Ekor Tikus Mati Gagal Diselundupkan ke Tomohon

GORONTALO, RAKYATJATENG – Sedikitnya 1.120 ekor tikus yang terbungkus dalam 14 boks ikan ditahan di Pelabuhan Penyeberangan Feri Gorontalo, kemarin, Kamis (22/3). Tikus yang dikirim dari wilayah Pagimana, Sulawesi Tengah (Sulteng) itu tidak memiliki dokumen standar dari Balai Karantina selaku otoritas yang berwenang.

Informasi yang dirangkum Gorontalo Post, awalnya Polsek KP3 mendapatkan informasi bahwa ada pemuatan boks ikan dari arah Luwuk, Sulteng menuju ke Gorontalo. Mendapatkan informasi itu, anggota gabungan yang terdiri dari Polsek KP3, TNI dan Dinas Perhubungan, kemudian melakukan pemeriksaan.

Hasilnya, ternyata benar bahwa ada 14 boks putih yang terletak di mobil pickup Suzuki Carry yang berasal dari daerah Luwuk. Namun isi dari box tersebut bukanlah ikan, melainkan ribuan tikus mati yang terbungkus plastik. Rencananya, tikus-tikus mati itu bakal dibawa ke Pasar Tomohon, Sulawesi Utara (Sulut).

Dari hasil pemeriksaan, masing-masing box berisikan 80 ekor tikus dengan jumlah total yakni 1.120 ekor tikus.Ketika dilakukan pemeriksaan izin karantina hewan dari daerah asal, ternyata dokumen tersebut tidak bisa ditunjukkan.

Oleh karena itu, anggota gabungan kemudian mengamankan mobil beserta 14 boks tikus ke Polsek KP3 guna penyedilikan lebih lanjut.

Dari hasil penyelidikan, diketahui pemilik tikus adalah David Mailake, warga Dangunemo, Sulteng. Sementara sang kurir yang juga pemilik kendaraan bernama Roni, warga Kecamatan Kota Tengah, Kota Gorontalo.

Mobil tersebut pun disewa seharga Rp 1,5 juta dalam sekali antar. Rencananya tikus mati ini akan dibawa ke Pasar Tomohon yang telah dipesan oleh pembeli dengan bernama Sandra.

“Harganya Rp 10 ribu per ekor. Selanjutnya, tikus mati ini akan kami serahkan kepada pihak Balai Karantina Hewan Gorontalo,” ungkap Kapolsek KP3, Iptu Imran Panigoro, dikutip dari Gorontalo Post (Jawa Pos Grup), Sabtu (24/2).

Imran menambahkan, pihaknya masih akan menyelidiki lebih lanjut persoalan ini. Hanya saja, dikarenakan yang membawa tikus mati ini adalah kurir, maka mereka akan mengundang pihak-pihak terkait lainnya.

“Apalagi hal ini merupakan pertama kalinya di Gorontalo,” imbuh Imran.

Sementara itu, dokter hewan dari Balai Karantina Pertanian kelas II Gorontalo wilayah kerja pelabuhan laut Gorontalo, Didin Fadila menyampaikan, berdasarkan wawancara dengan kurir tersebut tikus ini berasal dari Pagimana untuk dibawa ke Pasar Tomohon.

“Tikus tersebut bukan diedarkan di Gorontalo,” katanya.

Sebagai informasi, paket tikus tersebut harus disertai sertifikat kesehatan produk hewan dari daerah asal. Ketentuan itu berdasarkan Undang-undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan serta Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000 tentang Karantina Hewan.

“Untuk selanjutnya kami akan mengeluarkan dokumen 8A dan diserahkan ke PPNS yang ada di karantina dengan dikawal oleh Polsus. Tugas kami adalah memeriksa sertifkat kesehatan hewan yang dikeluarkan dari daerah asal dengan memperhatikan busuk tidaknya, sanitasinya, kemudian apakah kemasannya mengalami kebocoroan atau tidak,” kata Didin.

Terpisah, Plh. Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Gorontalo Willy Indrayana mengungkapkan, barang ini masih ditahan sementara waktu untuk proses penyelidikan, dan tidak bisa ditebus.

Akan tetapi, pihaknya memberikan waktu selama tiga hari kepada pemilik barang untuk melengkapi dokumen sertifikat kesehatan hewan yang dikeluarkan oleh daerah asal.

“Bila tidak ada, kami akan berkoordinasi dengan pimpinan untuk langkah apa yang akan dilakukan selanjutnya,” kata Willy.

(JPC)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Sonny Wakhyono