Berpegangan Pelepah Pohon Kelapa, Inilah Saat-saat Mulyono Lolos dari Maut Longsor Brebes

oleh
TEGUH SUPRIYANTO/RADAR BREBES PERAWATAN- Mulyono salah satu warga yang berhasil selamat saat terjadinya longsor bukit Lio Desa Pasirpanjang, Kecamatan Salem mendapat perawatan di Puskesmas Bentar.

RAKYATJATENG, BREBES – Mulyono (57), warga Desa Pasirpanjang, Kecamatan Selem, Kabupaten Brebes tak mungkin melupakan hari Kamis 22 Februari. Sekitar pukul 08.00 WIB, longsor terjadi di bukit Lio Pasirpanjang, Mulyono lolos dari maut longsor Brebes.

Terjangan material longsor menewaskan lima warga dan belasan lainnya masih dalam pencarian. Didampingi istrnya, Tarmah (55), Mulyono mendapat perawatan di Puskesmas Desa Bentar Kecamatan Salem. Dia mampu menceritakan deti-detik terjadinya longsor yang hampir saja merengut nyawanya tersebut. “Sekitar pukul 07.30 WIB, saya keluar rumah. Niatnya untuk mengambil kayu di kebun,” ungkapnya, seperti dikutip dari Radar Tegal.

Dia mengatakan, pagi itu dirinya tidak sendirian berada di blok Pasirpanjang Lama yang menjadi lokasi tragedi longsor. Sejumlah warga lain tengah mengolah lahan sawah, tidak jauh dari lokasi dirinya berada.

“Selain saya ada yang lain, kebanyakan wanita. Mereka sedang tandur di satu kotak lahan sawah berdekatan, selain itu juga jalan sedang ramai dilintasi,” kata Mulyono.

Namun, belum lama dirinya beraktivitas di lokasi tersebut, tiba-tiba terdengar suara berdentum dari atas bukit. Lokasi Mulyono berada, merupakan bagian bawah dari jalan Provinsi Salem-Banjarharjo. Tidak berselang lama, dentuman yang terdengar disertai dengan adanya pergerakan tanah yang begitu cepat dari atas bukit. “Seperti suara ledakan, kemudian tanah bercampur air turun dengan cepat menyapu tempat sekitar saya berada,” tuturnya.

Menyadari telah terjadi kondisi yang tidak baik, Mulyono berusaha untuk berlari menjauh dari alur pergerakan tanah. Namun upaya yang dilakukannya terlambat. Tubuhnya ikut terseret lumpur longsor, meskipun sudah berupaya menghindar.

“Saat saya lari, tubuh terdorong oleh pelepah pohon kelapa kering yang hanyut terbawa longsor. Karena takut tenggelam, saya berpegangan erat ke pelepah itu,” tuturnya.

Dia sudah tidak dapat lagi mengingat kondisi warga lain yang terakhir dia lihat sedang menanam padi. Dirinya mengaku pasrah terbawa arus lumpur, sambil berpegangan pada pelepah pohon. “Sempat tenggelam sampai sekeliling kelihatan gelap, tapi saya tetap berpegangan pada pelepah sambil tetap teseret tanah,” ucap Mulyono.

Setelah beberapa saat kemudian, arus mulai terhenti. Mulyono mencoba untuk menuju tepian yang memiliki permukaan lebih tinggi dari tempatnya berada. “Saya kira dangkal, ternyata sampai tenggelam di situ saya hampir putus asa. Karena tidak kuat lagi untuk mengangkat tubuh dari lumpur,” katanya lagi.

Keberuntungan masih berpihak padanya, Mulyono berhasil mencapai dataran lebih tinggi dan terbaring sampai ditemukan oleh warga yang melakukan pencarian. “Saya sempat minum air sawah, karena capek sekali,” imbuhnya.

Sementara Kepala Puskesmas Bentar Kecamatan Salem, dr Riana Harsana mengatakan, lima korban tewas langsung diambil pihak keluarga usai dilakukan pendataan seperlunya. Sedangkan, 14 korban menjalani perwatan akibat trauma dan luka benturan saat longsor berlangsung.

“Ada tiga yang dirujuk, yakni ke RSUD Majenang dan RS Orthopaedi Purwokerto. Mereka mengalami luka berat, akibat terbentur material longsor dan juga patah tulang,” jelas Riana.

Selain itu, lanjut dia, beberapa pasien juga telah pulang ke rumahnya masing-masing setelah diketahui hanya menderita luka ringan. “Kami pastikan mereka yang meminta pulang kondisinya sudah stabil, kebayakan masih mengalami trauma pasca kejadian tersebut,” pungkasnya. (jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.