Subsidi Benih bagi Petani Dicabut, Mentan Ganti dengan Ini…

oleh

FAJAR.CO.ID, BANDUNG – Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, menyatakan bahwa saat ini kebijakan pencabutan subsidi benih dilakukan untuk kebaikan petani.

Tahun 2015 dilaporkan bahwa hanya 5 persen subsidi benih yang terserap, sehingga petani yang menikmati hanya sekitar 2 persen saja.

“Kami cabut subsidi benih 1 triliun, diganti menjadi pembagian benih unggul gratis yang diberikan secara langsung seperti benih padi, cabai, jagung kepada seluruh petani di Indonesia,” jelas Mentan saat menghadiri kegiatan masa Reses Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) DPR RI dan Panen Raya seluas 300 ha di hamparan seluas 6000 ha di Desa Sumber Sari, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (5/8/2017).

Melalui perubahan kebijakan tersebut Mentan menjelaskan bahwa hingga saat ini tidak ada impor jagung. Pada tahun sebelumnya setiap bulan Agustus impor jagung sebesar 2 juta ton. “Ini merupakan kerja sama dari semua pihak, kita sepakat kalo negeri ini tidak butuh, jangan impor, kasihan petani, ” tegas Mentan.

Selanjutnya, Mentan menegaskan bahwa setiap kebijakan yang dikeluarkan Kementan adalah untuk melindungi petani. Kepentingan kami saat ini bagaimana petani bisa mendapatkan keuntungan, sehingga apabila petani untung APBN nantinya tidak diperlukan lagi.

“Kami minta hasil produksi dibeli semahal -mahalnya dari petani, tetapi dijual semurah-murahnya untuk konsumen,” kata Mentan.

Dalam Panen Raya yang juga dihadiri oleh Ketua Umum PKB, A. Muhaimin Iskandar, dan Sekretaris FPKB DPR RI, Cucun A. Syamsurijal, Mentan memberikan bantuan alsintan kepada 11 Gapoktan di Desa Sumbersari Kabupaten Bandung berupa 10 unit traktor roda 4, 5 unit traktor roda 2, 18 unit pompa air, 6 unit power treser dan 9 unit cultivator.

Pada kesempatan tersebut Mentan juga melaporkan bahwa musim panen pada April hingga September memiliki kualitas yang sangat bagus. “Kondisi ini perlu kita pertahankan agar di bulan kemarau ini tidak terjadi paceklik pada bulan November, Desember dan Januari,” jelas Mentan.

Bulan Juli target luas tanam 1 juta ha perbulan telah tercapai, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya 500 ribu ha per bulan. Jumlah ini diharapkan juga dapat dicapai pada bulan Agustus dan September untuk menjaga kestabilan harga.

“Kalau tanam 1 juta ha dikalikan dengan jumlah produksi 6 juta ton per ha GKG, maka akan menghasilkan 3 juta ton beras bahkan surplus 400.000 ton,” urai Mentan. (fajar)